Monday, December 5, 2016

CARA ALLAH SWT MEMBERI REZKI KEPADA HAMBANYA

Andaikata, uang kita diambil satu bagian, lalu dikembalikan sebanyak tujuh belas kali lipat, maukah kita? Andaikata, yang mengambil tidak memberitahu lebih dahulu, kalau nantinya akan dibayar dengan berlipat ganda, maukah kita?

Marilah kita ikuti pengalaman nyata seorang bapak muda yang cukup menarik untuk dikaji. Sebutlah Pak A. Sekitar 14 tahun yang lalu, tepatnya tahun 1988, seorang muda yang baru dikarunia seorang anak, is bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya yang tinggal sebentar lagi selesai. Gaji yang didapatkan dari pekerjaannya itu setiap bulannya dapat dikatakan sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya beserta istri dan seorang anak kecilnya.

Suatu hari yang “naas” ia pulang dari kerjanya. Dengan penuh gembira ia membawa pulang gaji pertamanya yang sebesar Rp. 40.000,- (Empat puluh ribu rupiah). Dengan perasaan bangga dan penuh dengan rasa gembira ingin ditunjukkannya hasil kerjanya itu kepada istri tercintanya.

Ingin sekali ia cepat-cepat sampai di rumah dan dengan uang itu ia ingin belanja bersama istri dan anaknya, maklum gaji pertama adalah gaji yang mempunyai nilai “historis” tinggi.

Setelah sampai di rumah apa yang terjadi? Ternyata dompet yang berisi gaji satu bulan tersebut suWaktu satu bulan sungguh terasa sangat lama untuk menunggu gaji tersebut. Tapi apa mau dikata gaji pertamanya sudah harus ia relakan untuk tidak ia miliki saat itu. Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada diri kita? Sanggupkah kita menerimanya dengan ikhlas?
dah tidak ada di saku celananya alias kecopetan ketika ia pulang dari tempat kerjanya.

Bisa dibayangkan betapa sedih, kecewa dan bingungnya ia ketika itu. Andaikata bisa, mungkin ia akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin ia akan protes kepada tuhan yang telah “mengijinkan” peristiwa itu terjadi. Karena ia telah bekerja dengan keringatnya tanpa kenal lelah dengan penghasilan yang halal demi keluarga tercinta.

Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia duduk terdiam tanpa bisa berkata apa-apa sambil memandang istri dan anaknya, mengapa hal ini harus terjadi pada dirinya? Dalam kondisi seperti itu dengan hati terasa pedih ia mencoba tegar dan berpikir praktis. Biarlah uangnya hilang, toh peristiwa sudah terjadi, mau diapa lagi….?”

Akhirnya diambilnya keputusan untuk tetap berusaha kalau-kalau dompet tersebut masih mungkin untuk ditemukan, walaupun secara logika sangat kecil kemungkinannya untuk mendapatkan kembali uangnya tersebut. Ia berusaha mengambil hikmah dari kejadian itu meskipun dengan perasaan yang tidak karuan sedihnya.

Keputusan segera diambilnya, yaitu tetap berusaha untuk mencoba mendapatkan kembali dompetnya karena di dalamnya ada beberapa surat berharga, diantaranya stnk kendaraan bermotor, ktp, dan beberapa surat penting lainnya.


Waktu berjalan dengan cepat. Ia telah lupa pada dompetnya yang hilang, dan saat itu ia asyik menulis sesuai dengan kemampuannya yang sesuai pula dengan disiplin ilmunya.

Hal ini berlangsung beberapa bulan sejak terjadinya peristiwa naas tersebut. Selanjutnya ia sering menulis dan menanggapi tulisan orang lain sampai berulang-ulang sehingga ia menjadi seorang penulis. Meskipun masih pemula, pada surat kabar tersebut. Lalu?

Karena kemampuannya menulis dinilai cukup baik, oleh pimpinan perusahaan ia dipanggil dan ditawari untuk bekerja diperusahaan tersebut dengan gaji pertama Rp 750.000,- Tujuh belas kali lipat lebih tinggi dibanding uangnya yang telah hilang waktu itu.

Itulah rupanya jawaban Allah atas kejadian yang menimpa seseorang, bila sabar menerimanya. Allah “meminjam” 1 bagian, dan kini dikembalikan menjadi tujuh belas kali lipat lebih.

Waktu berjalan terus tanpa terasa, dan pada saat saya menulis ini, ia telah mencapai sukses gemilang dengan penghasilan yang ribuan kali lipat dibanding uang yang hilang dulu.

Apakah ini merupakan puncak keindahan dari peristiwa yang terjadi di hari “naas” itu, atau bahkan Allah Yang Maha kuasa akan menunjukkan pada sesuatu yang lebih indah lagi….wallahu’alam.

Yang pasti, ukuran sukses yang paling besar adalah hati yang damai, dan bahagia yang tercapai. Saya yakin setiap orang pernah mengalami kejadian yang senada dengan kejadian diatas. Hanya saja mungkin skala dan situasinya yang berbeda.

Marilah kita renungkan perjalanan hidup kita masing-masing, pasti kita pernah mengalami suatu kejadian, dimana kejadian tersebut kita sangka sesuatu yang menyusahkan, merugikan, dan menyedihkan.

Tetapi hal itu akan berubah menjadi sesuatu yang indah, apabila seseorang sabar menerimanya. Akhirnya muncullah hikmah yang sangat besar yang tiada tersangka sebelumnya.

Sungguh, Allah Maha Perencana dari segala macam kejadian dan peristiwa. Setiap peristiwa yang sudah terjadi, bagi seorang muslim merupakan ketetapan Allah yang sangat indah. Karena disitulah letak ukuran dan ujian kualitas taqwa seseorang…

Monday, October 31, 2016

Rasa yang diresapi...baca dengan hati nurani !!

Menatap panorama si miskin dan si fakir ...
Ada yang nangis kelaparan, ada pula dengan gemetaran makan karena sudah beberapa hari tidak makan
begitu ketemu makanan, makan dengan gemetaran dalam hati amat bersyukur.

Hela napas dalam-dalam Ya Allah apa ini ujian bagi yang mampu ? ataukah ini bagian warna warni kehidupan ?
tak mampu aku menjawabnya...Hanya menangis dan sedih yang aku bisa karena aku hanya sanggup memberinya seadanya...tidak begitu banyak untuk mereka aku sanggup berikan, namun dalam hatiku menangis ingin memberinya banyak, tapi... aku tak sanggup.

Hidup kadang beratap langit, tidur dengan selimut malam diganggu nyamuk tapi tak dihiraukan, karena kemana lagi mereka tidur kalo bukan di situ di alam raya yang kadang kejam dengan suasana gelapnya. Inikah takdir kehidupan ? apakah ini tak bisa berubah dan diubah oleh mereka yang mampu dan punya banyak harta yang bisa dibagikan,Allohu Akbar, La haula wala quwwata illa BILLAH.

Sayyidina Umar bin Khattab ra,Umar bin Abdul AZIZ rahimaHULLAH sangat mencintai rakyatnya, sampai-sampai  beliau tidak mau makan gandum yang bagus kalo rakyatnya semua belum makan gandum yang bagus. Bahkan rela berlapar-lapar demi rakyatnya dan merekapun masih menangis dan bersedih takut kepada ALLAH SWT jangan sampai amanah yang diberikan Allah menjaga Ummat tidak maksimal, mengalir air mata siang dan malam demi ingin melihat rakyatnya bahagia dan makmur. Bahkan baju khalifah penuh tambalan bagai gembel demi kemakmuran rakyatnya.





Thursday, May 5, 2016

Hikmah Isa' Mi'raj berdasarkan Qur'an dan Hadits oleh Prof. Dr. H. Muktarudin Nasim, MH, MA

Kajian dengan Qur'an dan Hadits



Ulama cilik dari Madinah

Syech Jihad Al Malikdapat sanad pengakuan :



Syech Jihad al Malik hafidz Qur'an dan hadits :



Syech Jihad al Malik hafidz Qur'an dan hadits :

ruqyatul syar'iyah/ Islami

Baca saja terus hingga syetanpun larikarena terbakar.
Jangan pernah berdialog dengan syaitan karena pasti dia berbohong.
Kalau syaitan ikut mengaji, mengaji saja terus karena dia akan semakin terbakar, dia hanya menipu, ikut mengaji supaya kita berhenti mengaji itu haya tipuan syaitan saja

inilah bacaan-bacaan ruqyah yang dicontohkan oleh RasulullAH saw :


Sebaiknya baca saja yang dibaca oleh RasuluLLAH saw, supaya sunnah ada pahalanya.